Langsung ke konten utama

Postingan

Menjaga Kehormatan di Tengah Dunia yang Terbuka

Menjaga Kehormatan di Tengah Dunia yang Terbuka Di era ketika dunia semakin terbuka, batas antara yang pribadi dan yang publik kian menipis. Teknologi, media sosial, dan budaya global mendorong manusia untuk menampilkan dirinya tanpa sekat. Dalam arus keterbukaan ini, muncul satu pertanyaan mendasar: di manakah letak kehormatan manusia, dan bagaimana cara menjaganya? Kehormatan bukanlah sesuatu yang melekat pada penampilan luar semata, melainkan tumbuh dari cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ia berakar pada kesadaran bahwa manusia bukan sekadar tubuh, tetapi juga jiwa, nilai, dan tanggung jawab moral. Ketika seseorang menghormati dirinya, ia akan secara alami membangun batasan—bukan untuk menjauh dari dunia, tetapi untuk melindungi hal-hal yang dianggap suci dan bermakna. Batasan dalam kehidupan sosial sering disalahpahami sebagai tembok pemisah. Padahal, dalam banyak tradisi nilai, batasan justru berfungsi sebagai jembatan yang mengarahkan hubungan agar tetap berada dalam korid...
Postingan terbaru

Menautkan Rasa Suka pada Jalan Ilahi

Menautkan Rasa Suka pada Jalan Ilahi Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah lepas dari rasa suka. Suka terhadap sesuatu—baik itu harta, jabatan, ilmu, relasi, maupun hobi—adalah bagian dari fitrah yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Namun, rasa suka tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ketika seseorang melibatkan rasa sukanya karena Allah, maka segala aktivitas duniawi yang dijalani akan bernilai ibadah. Ia tidak hanya menikmati apa yang dicintainya, tetapi juga menata niat agar setiap langkahnya selaras dengan syariat dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, jika rasa suka dilepaskan dari bingkai keimanan, ia berpotensi berubah menjadi berlebihan. Nafsu diri akan mengambil alih kendali, menjadikan manusia terbuai oleh kenikmatan sesaat. Pada titik inilah pintu godaan setan terbuka lebar, mengarahkan manusia pada sikap lalai, sombong, dan jauh dari nilai-nilai ketakwaan. Rasa suka yang seharusnya menjadi sumber kebaikan justru d...

Membaca Kitab Kuning sebagai Pilar Peradaban Ilmu di Dunia Pesantren

Membaca Kitab Kuning sebagai Pilar Peradaban Ilmu di Dunia Pesantren Membaca kitab kuning merupakan tradisi yang sangat familiar dan mengakar kuat di dunia pesantren. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebuah proses pewarisan peradaban ilmu yang telah berlangsung selama berabad-abad. Di balik lembaran-lembaran kitab klasik yang ditulis tanpa harakat itu, tersimpan khazanah pemikiran ulama terdahulu yang menjadi rujukan utama dalam memahami ajaran Islam secara mendalam dan komprehensif. Bagi santri, ketekunan dalam mengkaji kitab kuning adalah wujud kesungguhan dalam menelusuri jejak intelektual para ulama. Setiap baris teks mengajarkan tidak hanya aspek keilmuan, tetapi juga nilai kesabaran, kedisiplinan, dan adab dalam menuntut ilmu. Proses membaca, memaknai, dan mendiskusikan isi kitab bersama kiai atau ustaz menjadi ruang pembentukan karakter yang membedakan pendidikan pesantren dari sistem pendidikan lainnya. Lebih dari itu, kitab kuning berperan sebagai jemb...

Di Antara Sesak dan Syukur: Hikmah Perjalanan Bersama Bus Harapan Jaya

Perjalanan saya dari Tulungagung menuju Trenggalek kali ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah pengalaman yang menyimpan banyak pelajaran. Saya menumpang Bus Harapan Jaya yang, pada hari itu, ditumpangi lebih dari 70 penumpang. Suasana di dalam bus terasa padat, bahkan cenderung sesak. Namun, di balik ruang yang terbatas itu, tersimpan kisah tentang kebersamaan, kesabaran, dan makna perjalanan itu sendiri. Sejak langkah pertama menaiki bus, saya langsung merasakan atmosfer yang berbeda. Bangku-bangku terisi penuh, lorong sempit dipenuhi tas dan barang bawaan, serta suara percakapan yang saling bersahutan. Ada ibu yang menenangkan anaknya, ada pekerja yang terlelap setelah seharian beraktivitas, dan ada pula mahasiswa yang sibuk dengan ponselnya. Dalam kepadatan itu, saya belajar bahwa setiap orang membawa cerita dan tujuan masing-masing, namun kami dipersatukan oleh satu arah perjalanan yang sama. Dari sisi kelebihan, Bus Harapan Jaya menawarkan kemudahan akses dan harga ...

Arsitektur Strategi: Merancang Visi-Misi Berbasis Bukti dan Antisipasi

Arsitektur Strategi: Merancang Visi-Misi Berbasis Bukti dan Antisipasi Dalam dinamika akademik dan kepemimpinan strategis, kemampuan untuk membangun sebuah konsep utuh yang terintegrasi dalam satu visi dan misi yang jelas merupakan penanda kematangan intelektual dan organisasional. Proses ini melampaui sekadar pernyataan ideal; ia adalah sebuah disiplin konstruksi logis yang melibatkan empat tahap kritis: merumuskan konsep perencanaan yang matang, menyusun strategi yang jitu, menyajikan data yang kongkret, dan memprediksi problem solving yang relevan. Keempat tahap ini membentuk sebuah siklus integral yang mengubah visi yang abstrak menjadi peta jalan yang dapat ditindaklanjuti dan dipertanggungjawabkan. Langkah pertama, merumuskan konsep perencanaan yang matang, adalah fondasi filosofis dan intelektual. Pada tahap ini, visi dan misi harus dijabarkan menjadi kerangka konseptual yang koheren. Perencanaan yang matang tidak dimulai dari aktivitas, tetapi dari pembingkaian masalah (probl...

PENELITI: TIGA PILAR PERADABAN

Dok : FGD UINSATU PENELITI: TIGA PILAR PERADABAN      Dalam narasi besar kemajuan manusia, peneliti adalah arsitek yang tak kenal lelah. Mereka bukan sekadar akademisi yang berkutat di laboratorium, tetapi pelopor yang membentuk masa depan. Peran mereka yang sesungguhnya melampaui aktivitas riset semata; ia bertumpu pada tiga pilar fundamental yang saling terhubung: menemukan, mengembangkan, dan mentransfer. Trilogi inilah yang mengubah keingintahuan menjadi peradaban.      Pilar pertama adalah menemukan. Ini adalah jantung dari penelitian. Seorang peneliti harus memiliki kemampuan untuk melihat celah dalam pengetahuan, merumuskan pertanyaan yang belum terpikirkan, dan berani menyelami wilayah yang gelap. Proses menemukan ini didorong oleh rasa ingin tahu yang tak terbendung dan ketekunan untuk mencari kebenaran. Ia bisa berupa identifikasi spesies baru di hutan belantara, pengamatan fenomena fisika yang anomali, atau penggalian naskah kuno yang menguba...

Menyeduh Mutu dalam Secangkir Harmoni: Catatan Pagi Forum Akreditasi

Menyeduh Mutu dalam Secangkir Harmoni: Catatan Pagi Forum Akreditasi Matahari baru saja memanjat ufuk, menyapa kaca jendela ruang rapat dengan cahayanya yang masih malu-malu. Di atas meja, kepulan uap tipis muncul dari cangkir-cangkir berisi kopi susu. Aroma kafein yang berpadu dengan gurihnya krimer menciptakan suasana tenang—sebuah kontras yang indah di tengah agenda besar yang sedang kami hadapi: Forum Diskusi Peningkatan Akreditasi. Ada sebuah filosofi sederhana di balik setiap sesapan pagi ini. Hitamnya kopi adalah simbol dari realita kerja keras, tantangan administratif, dan tuntutan standar yang seringkali terasa pahit. Namun, ketika ia bertemu dengan putihnya susu—simbol kolaborasi, empati, dan kejernihan visi—rasa pahit itu tidak lenyap, melainkan bertransformasi menjadi kehangatan yang menguatkan. Inilah harmoni yang sedang kita upayakan dalam meningkatkan mutu institusi. Akreditasi: Meracik Ikhtiar Menuju Kualitas Dalam diskusi ini, kami kembali menyadari bahwa akreditasi bu...

Refleksi Diri melalui Pelajaran Hidup di Punggung Truk

Refleksi Diri melalui Pelajaran Hidup di Punggung Truk Di jalan raya, di antara deru mesin dan laju kendaraan, sering kali kita menemukan pelajaran hidup yang datang tanpa undangan. Salah satunya terpampang sederhana namun mengena: tulisan di punggung truk. Kalimat-kalimat singkat seperti “Urip iku urup”, “Sing penting usaha, dudu gaya”, “Ojo dumeh”, atau “Sabar iku jembar” bukan sekadar hiasan visual, melainkan cermin filosofis yang mengajak setiap pengendara untuk berhenti sejenak dan merenung. Punggung truk menjadi media pembelajaran hidup yang berjalan—ia bergerak dari satu tempat ke tempat lain, membawa muatan sekaligus makna. Kata mutiara bermakna yang tertera di punggung truk sering lahir dari pengalaman hidup yang panjang dan keras. Kalimat “Kerja keras ora bakal ngapusi asil” mengingatkan bahwa hasil adalah buah dari proses, bukan kebetulan. Sementara “Ngono yo ngono, ning ojo ngono” mengajarkan etika dan batas dalam bersikap. Ungkapan-ungkapan ini ringkas, membumi, dan jujur—...

PENERIMAAN MURID BARU (SPMB) MA DARUNNAJAH TRENGGALEK Tahun Pelajaran 2026/2027

🌟✨ **PENERIMAAN MURID BARU (SPMB)** **MA DARUNNAJAH TRENGGALEK** **Tahun Pelajaran 2026/2027** ✨🌟 *Bergabunglah dengan madrasah yang memadukan ilmu, akhlak, dan prestasi untuk mencetak generasi unggul berkarakter Islami.* ## 📢 **SISTEM PENERIMAAN MURID BARU RESMI DIBUKA!** Kami dengan bangga mengumumkan bahwa **SPMB Tahun Pelajaran 2026/2027** telah dibuka! Ini adalah kesempatan terbaik bagi Bapak/Ibu untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putri tercinta melalui lingkungan madrasah yang nyaman, agamis, dan berorientasi prestasi. Di MA Darunnajah, kami percaya setiap anak memiliki potensi besar dan harus difasilitasi melalui pendidikan yang berkualitas dan penuh nilai. Karena itu, kami membuka kesempatan bagi peserta didik baru untuk bergabung bersama keluarga besar Madrasah Aliyah Darunnajah Trenggalek. ## 📝 **PENDAFTARAN ONLINE – MUDAH & PRAKTIS** Kini mendaftar bisa dilakukan dari rumah! Klik link berikut untuk mengisi formulir resmi: 🔗 **[https://bit.ly/SPMBMAD2026]...

Menapaki Pagi Menuju Grand Rohan: Perjalanan menghadiri Incoils 2025"

Menapaki Pagi Menuju Grand Rohan: Perjalanan menghadiri Incoils 2025" Berangkat dari kampus UIN Satu Tulungagung pada pukul 05.20 WIB, pagi itu masih menyimpan sunyi. Udara terasa lembut, menyentuh kulit dengan sejuk yang tidak menusuk, justru mengantar semangat perjalanan menuju agenda Incoils ke-5 tahun 2025 di Grand Rohan Hotel Yogyakarta. Matahari belum sepenuhnya datang, namun cahaya samar jingga mulai menyibak tirai malam, seperti memberi restu pada langkah kami. Jalanan masih lengang, hanya ditemani sedikit kendaraan yang melintas pelan, seolah perjalanan ini disiapkan khusus tanpa hiruk pikuk. Di dalam kendaraan, suasana perlahan hidup. Beberapa dosen mulai membuka percakapan ringan. Ada yang tertawa pelan sambil menikmati bekal teh hangat,kopi, ada pula yang memilih memejamkan mata sejenak, menyimpan tenaga untuk pertemuan panjang yang menanti. Di antara senyap dan obrolan kecil itu, terasa ada nuansa kebersamaan yang hangat—campuran antara profesionalitas dan kekeluargaa...